Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Sejarah Singkat Kepahlawanan Thomas Matulessy (Kapiten Pattimura)

 

Merdeka!!!

Sejarah Kepahlawanan Thomas Matulessy (Kapiten Pattimura) - Thomas Matulessy atau  yang sering kita panggil Kapiten Pattimura merpakan salah satu pahlawan Nasional yang berjuang di Daerah Maluku.
     
    Pattimura lahir di Haria, Pulau Saparua, Maluku pada tanggal 8 Juni 17 1783. Menurut sejarah Pattimura merupakan seorang keturunan bangsawan, ayahnya bernama Antoni Matulessy yan merupakan anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy.

 Baca Juga :Krisis Moral Remaja Yang Semakin MEMBAHAYAKAN

   Pattimura pernah berkarir dalam dunia militer sebagai mantan Sersan Militer Inggris. Pada tahun 1816 pihak Inggris menyerahkan kekuasaannya kepada Belanda. Kembalinya Belanda pada tahun 1817 mendapat tentangan keras dari rakyat karena selama 2 abad sebelumnya Belanda telah memiliki hubungan yang tidak baik dengan masyarakat.

   Sekembalinya Belanda ke Indonesia, mereka menerapkan kebijakan monopoly, pajak atas tanah, pelayaran Hongi serta mengabaikan Traktat London I antara lain dalam pasal 11 yang memuat bahwa Residen Inggris di Ambon harus merundingfkan dahulu pemindahan korps Ambon dengan Gubernur dalam perjanjian tersebut dicantumkan dengan jelas bahwa jika pemerintahan Inggris berakhir di Maluku maka serdadu-serdadu harus dibebaskan untuk memilih dinas pelatihan militer, namundalam praktiknya kolonil belanda tetap memaksakan. Hal tersebut menyebabkan rakyat Maluku bangkit dan dibawah pimpinan Kapiten Pattimura pada tahun 1817 pecahlah peperangan, dan Pattimura ditunjuk oleh rakyat untuk memimpin perang tersebut karena ia sudah berpengalaman. Sebagai pemimpin ia berhasil mengkoordinir Raja-raja patih dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan, pendidikan, membangun benteng pertahanan dll. Kewibawaannya dalam memimpin sangat diakui oleh raja patih maupun rakyat biasa. Dalam perjuangan menentang Belanda ia juga menggalang persatuan dengan kerajaan Ternate dan Tidore, raja-raja di Bali, Sulawesi dan Jawa. Perang Pattimura yang berskala nasional itu dihadapi Belanda dengan kekuatan militer yang besar dan kuat dengan mengirimkan sendiri Laksamana Buykes, salah seorang Komisaris Jenderal untuk menghadapi Patimura.

 Baca Juga :Pembukaan UUD 1945 Beserta Maknanya

     Pertempuran hebat melawan Belanda terjadi di Laut dan Darat semuanya di pimpin oleh Pattimura yang dibantu oleh para panglimanya antara lain Melchior Kesaulya, Anthoni Rebhok, Pjilip Latumahina, dan Ulupaha.  Pertempuran yang menghancurkan pasukan Belanda tercatat seperti perebutan benteng Belanda Duurstede, pertempuran di pantai Waisisil dan jasirah Hatawano, Ouw- Ullath, Jasirah Hitu di Pulau Ambon dan Seram Selatan. Perang Pattimura hanya dapat dihentikan dengan politik adu domba, tipu muslihat dan bumi hangus oleh Belanda. Para tokoh pejuang akhirnya dapat ditangkap dan mengakhiri pengabdiannya di tiang gantungan pada tanggal 16 Desember 1817 di kota Ambon. Untuk jasa dan pengorbanannya itu, Kapitan Pattimura dikukuhkan sebagai “PAHLAWAN PERJUANGAN KEMERDEKAAN” oleh pemerintah Republik Indonesia.

Sejarah Singkat Kepahlawan Jenderal Soedirman



 
Merdeka!!!

Sejarah Singkat Kepahlawanan Jenderal Soedirman  - Jenderal Soedirman adalah Seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang berjuang pada masa Revolusi Nasional Indonesia.

    Jenderal Soedirman lahir di Purbalingga Jawa Tengah, 24 Januari 1916. Ayahnya bernama Karsid Kartawiraji seorang pekerja pabrik gula dan ibunya bernama Siyem seorang keturunan Wedana Rembang. Soedirman di beri nama oleh pamannya yang bernama Cokrosunaryo, pamannya tersebut juga mengadopsi Soedirman dan memberinya gelar Raden, gelar kebangsawanan suku Jawa. Ayah kandung Soedirman meninggal saat ia berusia 6 tahun, Soedirman tumbuh besar di Cilacap, sampai saat umurnya 18 tahun ia baru di beritahu bahwa Cokrosunaryo bukan ayah kandungnya.


Baca Juga :Krisis Moral Remaja Indonesia Yang Semakin Membahayakan

    Pada usianaya 7 tahun Soedirman bersekolah di Hollandsch Inlandsche School, namun saat itu ia disuruh berhenti karena ejekan yang di terimanya di sekolah pemerintah tersebut, hingga akhirnya ia dipindahkan dan memperoleh pendidikan formal di Sekolah Taman Siswa, namun ia pindah lagi ke sekolah Wirotomo karena sekolah Taman Siswa diketahui tidak terdaftar dan setelah tamat di Wirotomo ia melanjut ke HIK Muhammadiyah (sekolah guru) di Surakarta, namun ia harus berhenti karena kekurangan biaya. Setelah itu ia kembali ke Cilacap dan menikah dengan Alfiah teman sekolahnya dulu, mereka di karuniai 3 orang putra bernama Ahmad Tidarwono, Muhammad Teguh Bambang Tjahjadi, dan Taufik Effendi, serta 4 putri yaitu Didi Praptiastuti, Didi sutjiati, Didi Pudjiati, Titi Wahjuti Satyaningrum.

    Ketika jaman Pendudukan Jepang Soedirman diminta untuk masuk tentara PETA (Pembela Tanah air), semula ia agak ragu karena cedera lutut yang dialaminya ketika remaja, namun akhirnya ia setuju untuk memulai pelatihan di Bogor, Jawa Barat. Di PETA Soedirman diangkat menjadi komandan, dan dilatih bersama orang lain dengan pangkat sama. Pada tanggal 21 April 1945, ketika PETA di bawah komando Kusaeri, dilancarkan pemberontakan terhadap Jepang. Jepang meminta agar pemberontakan itu dihentikan, Soedirman setuju untuk menghentikan pemberontakan tersebut dengan syarat anggota pemberontakan PETA tidak dibunuh dan tempat persembunyian mereka tidak dimusnahkan.

Pertemuan Soedirman dengan Soekarno
   Setelah menyelesaikan pendidikan di PETA, ia menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Ketika itu Soedirman dipanggil Presiden Soekarno untuk memimpin perlawanan terhadap Jepang di Jakarta, namun ia menolak dan memilih memimpin di Daerah Kroya. Ia bergabung dengan pasukannya tanggal 19 Agustus 1945, disaat bersamaan Sekutu dalam proses merebut kembali kepulauan Inonesia untuk Belanda, tentara Inggris pertama kali tiba tanggal 8 September 1945.


Baca Juga :Kisah Menarik R.A Kartini (Tokoh Emansipasi Wanita)


   Pada tanggal 18 Agustus 1945 pemerintah Jepang membubarkan PETA dan Heiho, dan di bentuklah BKR (Badan Keamanan Rakyat) yang diumumkan Soekarno tanggal 23 Agustus 1945 yang berfungsi sebagai Organisasi Kepolisian. Kala itu Soedirman dan rekannya sesama tentara PETA mendirikan cabang BKR di Banyumas. Sebagai negara yang baru merdeka dan belum memiliki tentara yang profesional, maka pada tanggal 5 Oktober 1945 Soekarno mengeluarkan dekret pembentukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat / sekarang TNI). Sebagai personilnya diambil bekas tentara dari KNIL dan sebagai perwira tertinggi diambil dari mantan tentara PETA dan Heiho. 


Pelantikan Soedirman Di Istana Negara
     Kemudian Soedirman menjadi Panglima Divisi V / Banyumas sesudah TKR. Jendral Soedirman mendapat prestasi pertamanya sebagai tentara setelah berhasilnya merebut senjata pasukan Jepang dalam pertempuran di Banyumas.Pada tanggal 12 November 1945 Soedirman terpilih menjadi pemimpin TKR setelah melalui dua tahap pemungutan suara buntu. Sambil menunggu pengangkatan Soedirman memerintahkan Divisi V untuk menyerang pasukan Sekutu Di Ambarawa yang di komandoi oleh Isdiman, kemudian pada tanggal 25 Mei, ia di kukuhkan menjadi Panglima Besar TKR setelah reorganisasi dan perluasan militer.

   Pada tanggal 7 Oktober 1946 Sjahrir dan Perdana Menteri Belanda Wim Schermerhorn sepakat untuk melakukan gencatan senjata. Perundingan ini dimoderatori oleh diplomat Inggris Lord Killearn dan juga Soedirman. Soedirman tiba di stasiun Gambir pada tanggal 1 November, di Jakarta ia di sambut oleh kerumunan besar. Perundingan tersebut berakhir dengan perumusan Perjanjian Linggarjati (klik disini) yang disahkan 25 Maret 1947, soedirman menentang keras perjanjian tersebut karena ia menganggap bahwa itu akan merugiakan Indonesia, namun menganggap dirinya juga wajib mengikuti perintah.


Gambar Jenderal Soedirman Di Tandu
 Terjadinya pemberontakan di Madiun dan ketidakstabilan politik, mengakibatkan kondisi Soedirman melemah. Pada tanggal 5 Oktober 1948 saat perayaan hari jadi TNI ketiga Soedirman pingsan dan setelah di periksa oleh dokter ia menderita penyakit Tuberkulosis. Pada akhir bulan ia dibawa ke rumah sakit umum Panti Rapih untuk menjalani pengempesan paru-paru sebelah kanan, dengan harapan agar penyakitnya tidak menyebar, walau begitu ia tetap terjun dalam Perang Gerilya. Sebelum ia memulai Gerilya ia mengumpulkan dokumen-dokumen penting lalu di bakarnya untuk mencegah jatuh ke tangan Belanda. Setelah beberapa hari di Kretek, ia dan kelompoknya melakukan perjalanan ke Timur menuju Wonogiri. Sadar bahwa mereka sedang diburu Belanda maka pada tanggal 23 Desember ia memerintahkan pasukannya melanjutkan perjalanannya ke Ponorogo, disana mereka berhenti di rumah seorang ulama bernama Mahfuz. Ulama tersebut memberi Soedirman sebuah tongkat untuk membantunya berjalan meskipun ia tetap di bopong mengguankan tandu. Perang Besar Pertama yang dipimpin Jendral Sordirman adalah Perang Palagan Ambarawa melawan Pasukan Inggris dan NICA (Nederlandsch Indie Civil Administrtie) Belanda yang berlangsung dari bulan November sampai Desembe.

   Pada awal  Agustus, Soedirman mendekati Soekarno dan memintanya untuk melanjutkan Gerilya, namun hal tersebut di tolak oleh Soekarno. Soedirman menyalahkan ketidak-konsistennya pemerintah menjadi penyebab penyakit Tuberkulosisnya dan kematian Oerip tahun 1948. Soedirman mengancam akan mengundurkan diri dari jabatannya, namun Soekarno juga mengancam akan melakukan hal yang sama. Setelah berpikir bahwa pengunduran dirinya akan membuat ketidakstabilan maka ia tetap menjabat. 
    
Baca Juga :Kisah Kepahlawanan Soekarno (Sang Plokamator Bangsa)

   Soedirman wafat tanggal 29 Januari 1950 di Magelang. Rumah keluarga Soedirman di padati oleh pelayat termasuk anggota Brigade IX. Keesokan harinya jenazah Soedirman dibawa ke Yogyakarta diiringi oleh konvoi pemakaman yang di pimpin oleh 4 tank dan 80 kendaraan bermotor. Jenazah Soedirman di semayamkan di Masjid Gede Kauman pada sore hari. Ia dikebumikan di sebelah makam Oerip setelah prosesi hormat senjata. Istrinya menuangkan tanah pertama ke makamnya diikuti oleh para Menteri. 


Kisah Kepahlawanan Soekarno (Sang Proklamator Bangsa)




Assalamu'alaikum Wr.Wb
Merdeka!!!

 Kisah Kepahlawanan Soekarno (Sang Plokamator Bangsa) - Ir. Soekarno lahir pada tanggal 6  Juni 1901 di Surabaya, Soekarno lahir di beri nama Kusno, namun karena ia sering sakit maka ketika ia berumur 11 tahun namanya diubah menjadi Soekarno, nama tersebut diambil dari kisah Bharata Yuda yaitu Karna, awalan kata "Su" pada nama Sukarno juga memiliki arti baik.

   Ayah Soekarno bernama Raden Soekemi Sosrodiharjo, ayahnya merupakan seorang guru yang di tempatkan di sekolah dasar di Singaraja. Ibu Soekarno bernama Ida Ayu Nyoman Rai yang merupakan keturunan bangsawan dari Bali yang beragama Hindu. Soekarno memiliki kakak perempuan bernama Sukarmini. 

Soekarno Kecil
   Soekarno kecil tinggal  bersama kakeknya Raden Hardjokromo di Tulung Agung, Jawa Timur. Namun ia pindah ke Mojokerto mengikuti orang tuanya yang di tugaskan di kota tersebut. Lalu Soekarno di sekolahkan  di Eerste Inlandse School (ELS) pada Juni 1911 sekolah tempat ayahnya bekerja. Pada tahun 1915 ia telah menyelesaikan pendidikannya di (ELS) lalu melanjutkan ke Hogere Burger Scool (HBS). Soekarno dapat di terima di HBS atas bantuan seorang teman ayahnya bernama H.O.S Tjokroaminoto bahkan Tjokroaminoto memberi tempat tinggal bagi Soekarno di Pondok kediamannya. Soekarno banyak bertemu dengan pemimpin sarekat Islam, organisasi yang di pimpin Tjokroaminoto saat itu, seperti Alimin, Muso dll. Lalu Soekarno aktif dalam organisasi pemuda Tri Koro Dharmo yang merupakan bagian dari organisasi Budi Utomo. Namun pada tahun 1918 nama organisasi tersebut diganti Jong Java (Pemuda Jawa). Selain itu, Soekarno juga aktif menulis di harian Oetoesan Hindia yang di pimpin Tjokroaminoto. 

Baca Juga :Pengertian Gold, Glory, Gospel (3G)

  Pada bulan Juli 1921 Soekarno telah tamat di HBS, lalu ia melanjutkan ke  Technische  Hoogeschool te Bandoeng ( sekarang ITB) di Bandung dengan mengambil jurusan teknik sipil. Namun setelah 2 bulan ia meninggalkan kuliah dan pada tahun 1922 ia melanjutkan kembali sampai tamat kuliah pada tahun 1926. Soekarno dinayatakan lulus ujian insinyur pada tanggal 26 Mei 1926 dan pada tanggal 3 Juli 1926 ia di wisuda bersama 18 wisudawan lainnya. 
   
   Di Bandung ia tinggal di kediaman Haji Sanusi yang merupakan anggota Sarekat Islam dan merupakan sahabat karib Tjokrominoto. Di sana ia berinteraksi dengan Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo dan Dr. Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pimpinan National Indische Partij. 

   Setelah lulus, Soekarno mendirikan biro insinyur bersama Ir. Anwari, ia dan temannya banyak mengerjakan rancangan bangunan. Ketika ia di buang ke Bengkulu ia menyempatkan merancang rumah dan merenovasi total masjid Jami'.

    Masa pergerakan nasional Soekarno pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Alggemeene Studie Club (ASC) di Bandung yang merupakan inspirasi dari Indonesische Studie Club oleh dr. Soetomo. Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia yang di dirikan tahun 1927. Aktifitas Soekarno di PNI menyebabkan ia di tangkap Belanda pada tanggal 29 Desember 1929 dan di jeblosakan di penjara Banceuy. Pada saat pengadilan Landaad di Bandung pada tanggal 18 Deseber 1930 ia membacakan pidatonya yaitu "Indonesia Menggugat" hingga di bebaskan pada tanggal 31 Desember 1931.

   Masa penjajahan Jepang, tokoh-tokoh seperti Soekarno, Moh. Hatta, dan lainnya di manfaatkan oleh Jepang dalam organisasi-organisasi untuk menarik hati penduduk Indonesia. Mereka terlihat aktif dalam berbagai organisasi seperti Jawa Hokokai, Putera, PPKI, BPUPKI. Dan akhirnya tokoh-tokoh nasional bekerjasama dengan pemerintah Jepang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, meskipun ada yang melakukan gerakan bawah tanah yang di lakukan Sutan Syahrir dan Amir Sjarifudin karena mereka menganggap bahwa Jepang adalah fasis yang berbahaya.
   
  Soekarno merupakan tokoh perumus pancasila dengan rumusannya yaitu:
1. Nasionalisme atau Kebangsaan Indonesia.
2. Internasionalisme atau Perikemanusiaan.
3. Mufakat atau Demokrasi.
4. Kesejahteraan Sosial.
5.Keutuhan Yang Berkebudayaan.



Proklamasi
   Masa revolusi, para tokoh nasional telah mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Setelah sidang BPUPKI, Panitia Kecil, Panitia Sembilan dan PPKI Soekarno bersama Hatta mendirikan Negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Sebelum Soekarno memproklamasikan kemerdekaan RI, terjadi perdebatan antara golongan muda dan golongan tua. Golongan muda memaksa Soekarno untuk segera memproklamasikan karena Indonesia terjadi vakum kekuasaan, hal ini karena Jepang telah menyerah dan Sekutu belum datang. Namun dari golongan tua menolak dengan alasan menunggu penjelasan mengenai penyerahan Jepang. Namun ada salasan lain yaitu Soekarno memilih tanggal 17 Agustus 1945 karena bertepatan dengan bulan Suci Ramadhan. Sehingga pada tanggal 17 Agustus 1945 Soekarno memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia dan ia pun disebut sebagai bapak Proklamator. Pada tanggal 29 Agustus 1945 pengangkatan presiden dan wakil presiden oleh KNIP. Kewibawaan Soekarno dapat menyelesaikan tanpa pertumpahan darah peristiwa lapangan ikada dengan ribuan rakyat Indonesia yang akan bentrok dengan pasukan Jepang bersenjata lengkap.

Baca Juga :Awal Mula Terjadinya Penjajahan Di Indonesia

Rapat Raksasa Lapangan Ikada

   Soekarno pernah mengalami percobaan pembunuhan lebih dari 5 kali, Megawati menyebutkan bahwa Soekarno pernah mengalami sebanyak 23 kali percobaan pembunuhan. Namun kata Sudarto Danusuborto sang pengawal Presiden terakhir menyebutkan bahwa seingatnya soekarno pernah mengalami 7 kali percobaan pembunuhan. Berikut 3 ringkasan dari 7 kali percobaan pembunuhan terebut :
1. Granat Cikini
    Pada tanggal 30 November 1957, Soekarno pergi ke Cikini tempat putra putrinya bersekolah dalam rangka hari ulang tahun ke-15 Percik, namun tiba tiba terjadi ledakan granat yang menyebabkan 9 orang tewas dan 100 orang luka-luka.
2. Penembakan Istana Presiden
    Pada 9 Maret 1960, Tepat siang bolong Istana presiden dihentakkan oleh ledakan yang berasal dari tembakan kanon 23 mm pesawat Mig-17 yang dipiloti Daniel Maukar. Maukar adalah Letnan AU yang telah dipengaruhi Permesta. Kanon yang dijatuhkan Maukar menghantam pilar dan salah satunya jatuh tak jauh dari meja kerja Soekarno. Untunglah Soekarno tak ada di situ. Soekarno tengah memimpin rapat di gedung sebelah Istana Presiden. Maukar sendiri membantah ia mencoba membunuh Soekarno. Aksinya hanya sekadar peringatan. Sebelum menembak Istana Presiden, dia sudah memastikan tak melihat bendera kuning dikibarkan di Istana – tanda presiden ada di Istana. Aksi ini membuat 'Tiger', call sign Maukar, harus mendekam di bui selama 8 tahun.
3. Pencegatan Raja Mandala
    Pada April 1960 menteri Uni Shoviet mengadakan kunjungan kenegaraan ke Indonesia. Dia menyempatkan diri mengunjungi Bandung, Yogya dan Bali. Presiden Soekarno menyertainya dalam perjalanan ke Jawa Barat. Tatkala, sampai di Jembatan Rajamandala, ternyata sekelompok anggota DI/TII melakukan penghadangan. Beruntung pasukan pengawal presiden sigap meloloskan kedua pemimpin dunia tersebut.


  Soekarno meninggal pada tanggal 21 Juni 1970 karena mengidap penyakit gangguan ginjal dan pernah di rawat di Wina Austria. Sejak bulan Agustus 1965 kesehatan Soekarno sudah menurun, namun ia sempat bertahan selama 5 tahun sebelum akhirnya ia meninggal. Soekarno di makamkan di Blitar, Jawa Timur bersebelahan dengan makam Ibunya.

Baca Juga :Kisah Menarik R.A Kartini (Tokoh Emansipasi Wanita)

Nah itulah kisah singkat Pak Soekarno, jika ada yang belum paham silahkan tulis komentar di bawah, semoga bermanfaat terima kasih.

Kisah Menarik R.A Kartini (Tokoh Emansipasi Wanita)





Assalamu'alaikum Wr.Wb

Merdeka!!!

  Kisah Menarik R.A Kartini (Tokoh Emansipasi Wanita) - Raden Adjeng Kartini atau yang sering kita panggil R.A Kartini merupakan salah satu pahlawan emansipasi wanita yang terkenal di Indonesia. Ia lahir di Jepara pada tanggal 21 April 1879. Tanggal tersebut di peringati sebagai Hari Kartini untuk menghormati atas jasa-jasanya. Kartini lahir dari keluarga Bangsawan, oleh karena itu ia memiliki gelar Raden Adjeng. 


R.M  Sosroningrat

  Ayah Kartini bernama R.M Sosroningrat yang merupakan anak dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV, ayah R.M Sosroningrat merupakan seorang Bupati Jepara pada kala itu, ia merupakan orang yang terpandang karena menjabat sebagai Bupati kala Kartini di lahirkan.


M.A Ngasirah
  Ibu Kartini bernama M.A Ngasirah yang merupakan anak dari seorang guru agama di Telukawur Kota Jepara. M.A Ngasirah sendiri bukan keturunan Bangsawan, ayahnya hanya seorang guru agama di desa.
  Karena pada pemerintahan saat itu mengharuskan seorang Bangsawan menikah dengan Bangsawan maka ayah Kartini menikahi seseorang keturunan dari Raja Madura yang bernama Raden Adjeng Woerjan. 
  Menurut sejarah R.A Kartini merupakan keturunan dari Sultan Hamengkubuwono VI, bahkan ada yang mengatakan bahwa ayah Kartini adalah keturunan Kerajaan Majapahit.



Kartini, Kardinah dan Rukmini
  Kartini memiliki 11 bersaudara, terdiri dari keluarga kandung dan keluarga tiri, ia merupakan anak peremuan tertua dari 11 bersaudara. Karena Kartini adalah seorang Bangsawan maka ia berhak mendapatkan pendidikan.

  Ayahnya menyekolahkan kartini di ELS (Europese Lagere School) disini lah ia mulai belajar bahasa Belanda sampai ia berumur 12 tahun, dan kemudian ia harus di pingit sesuai adat Jawa.
  Menurut sejarah R.A Kartini merupakan keturunan dari Sultan Hamengkubuwono VI, bahkan ada yang mengatakan bahwa ayah Kartini adalah keturunan Kerajaan Majapahit.

   Baca Juga :Kisah Soekarno (Sang Plokamator Bangsa)

   Meskipun dalam keadaan di pingit, Kartini tetap melakukan kor espondensi atau surat menyurat dengan temannya di Belanda. Kartini rajin membaca surat kabar, majalah dan buku buku berbahasa Belanda di sinilah ia mulai tertarik dengan pemikiran perempuan Belanda. Muncul lah pemikiran Kartini untuk memajukan perempuan pribumi. Pada usia 20 tahun ia aktif membaca buku karya Louis Coperus yang berjudul De still Kraacth, karya Van Eeden, serta banyak roman roman berbahasa Belanda. 


J.H Abendanon
  Kartini menaruh perhatian penuh dengan emansipasi wanita pribumi, menurutnya wanita perlu memperoleh persamaan, kebebasan dan kesetaraan di mata hukum. Cita cita Kartini adalah keinginanya melihat wanita pribumi bebas menuntut ilmu tanpa terkekang oleh adat istiadat Jawa. Ide emansipasi Kartini tersebut dapat merubah cara pandang masyarakat. Kartini merupakan salah satu tokoh emansipasi wanita, ia memperjuangkan hak hak wanita yang kala itu masih terkekang oleh adat Jawa pada saat itu. Atas perjuangannnya itu, sekarang perempuan dapat menikmati hak haknya sebagai perempuan. 

  Teman Belanda Kartini yang bernama Rosa Abendanon sepakat dengan pemikiran pemikiran Kartini. Cita cita Kartini untuk menjadi seorang guru gagal karena ayahnya tidak mengijinkanya melanjutkan pendidikan di Batavia atau Negeri Belanda. Hingga akhirnya ketika Kartini di pinang oleh K.R.M Adipati Ario singgih Djoyo Adhiningrat yang merupakan bangsawan dan Bupati Rembang pada usianya sekitar 24 tahun. Ia diberi kebebasan suaminya untuk mendirikan sekolah di sebelah kantor pemerintahan Rembang.


Baca Juga: Pengertian Gold, Glory, Dan Gospel

  Dari pernikahan tersebut Kartini memiliki anak bernama Soesalit Djoyoningrat yang lahir pada tanggal 13 September 1904. Namun setelah Kartini melahirkan ia wafat pada tanggal 17 September 1904 di usianya yang sangat muda. Kartini di kebumikan di Desa Bulu Kabupaten Rembang.


Kartini bersama suaminya
  Atas jasa jasanya, didirikanlah  sekolah wanita oleh Yayasan Kartini pada tahun 1912 di Semarang dan meluas di berbagai daerah.

  Sepeninggalan Kartini, teman Belanda Kartini yang bernama J.H Abedanon yang kala itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, Dan  Kerajinan Hindia Belanda mulai mengumpulkan surat surat surat Kartini ketika ia masih aktif surat menyurat dengan teman Belandanya. Dari situlah kemudian disusun buku berjudul "Door Duisternis tot Licht" yang bila di terjemahkan berarti "Habis Gelap Terbitlah Terang" buku tersebut terbit pada tahun 1911. Pemikiran tersebut menarik perhatian masyarakat, termasuk W.R Supratman, ia terinspirasi untuk membuat lagu berjudul "Ibu Kita Kartini".
  Pada tanggal 2 Mei 1964 Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia no.108 Tahun 1964 yang berisi penetapan Kartini sebagai  Pahlawan Nasional Indonesia. 


Baca Juga: Kisah Laksamana Cheng Ho Di Indonesia

Buku - Buku Karya Kartini: 
- Habis Gelap Terbitlah Terang
- Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
- Letters from Kartini, An Indonesia Feminist 1900-1904
- Panggil Aku Kartini Saja 
- Kartini Surat Surat kepada Ny. RM Abendanon


Kisah Laksamana Cheng Ho Di Indonesia

   Assalamu'alaikum wr.wb
Merdeka!!!

Laksamana Cheng Ho

Masjid Cheng Ho Jawa Timur
  Kisah Laksamana Cheng Ho Di Indonesia - Pasti tidak asing kan dengan nama Laksamana Cheng Ho, Laksamana Zheng He atau lebih kita kenal dengan Laksaman Cheng Ho adalah salah satu tokoh Penjelajahan Samudra yang berasal dari Cina. Penjelajahan tersebut ia mulai pada tahun 1405 untuk pergi ke wilayah Timur. Penjelajahan ini merupakan penjelajahan Paling spektakuler yang pernah dilakukan pada jaman dulu. Penjelajahan ini melibatkan 300 kapal dan 30 ribu kru.Tidak Hanya itu kapal yang digunakan memiliki panjang 138 meter dan lebar 56 meter, bayangkan betapa besarnya kapal tersebut. Jika ada yang menyebutkan bahwa Magellan adalah tokoh Penjelajah Dunia pertama kali itu salah, justru Laksamana Cheng Ho lah yang pertama kali menjelajahi dunia, dengan 7 kali ekspedisi. Salah satu daerah ekspedisi Laksamana Cheng Ho adalah Indonesia, yang merupakan daerah kesukaan Laksamana Cheng Ho.

 Baca Juga : Gambar Pak Soekarno berpidato

 
Klenteng Sam Po Kong
  Laksamana Cheng Ho adalah seorang Tiongkok yang memeluk agama Islam. Laksamana Cheng Ho telah banyak melukis ceritanya di Indonesia, salah satunya adalah menyebarkan agama Islam, bahkan Laksamana Cheng Ho menyebarkan agama Islam sebelum adanya WaliSanga. Bayangkan betapa hebatnya Laksamana Cheng Ho, ia pun pantas disebut sebagai simbol akulturasi, bagaimana tidak, berkatnya di Indonesia banyak akulturasi kebudayaan Tiongkok yang bercampur dengan kebudayaan Islam murni. Nama Laksamana Cheng Ho di abadikan di sebuah klenteng di Semarang yaiutu klenteng Sam Po Kong dan juga nama masjid Jawa Timur. Bedug masjid yang sekarang di kenal sebagai salah satu simbol Islam merupakan peninggalan Laksamana Cheng Ho.

 Baca Juga: Awal Mula Terjadinya Penjajahan Di Indonesia

Bedug Peninggalan Cheng Ho